Tradisi “Bau Nyale” - LPM Pena Kampus

Wadah Gali Nurani Mahasiswa

Breaking

Kamis, 26 Februari 2026

Tradisi “Bau Nyale”

(Sumber foto: https.//pin.it/3sn764qZW)    

Bagi masyarakat Sasak di Pulau Lombok, Bau Nyale bukan sekadar acara tahunan di tepi pantai. Tradisi ini tertanam pada kisah Putri Mandalika, sosok perempuan cantik dan bijaksana yang diperebutkan banyak pangeran. Untuk mencegah pertumpahan darah, ia konon menceburkan diri ke laut dari tebing pesisir selatan. Setelah ia menceburkan diri ke laut, tubuhnya diyakini menjelma menjadi nyale, yaitu cacing laut berwarna-warni yang muncul setahun sekali. Sejak saat itu, masyarakat berkumpul di pesisir selatan, terutama di sekitar Pantai Seger, untuk menangkap nyale sebagai bagian dari perayaan budaya sekaligus penghormatan terhadap legenda tersebut.


Cerita ini hidup turun-temurun dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Lombok. Waktu pelaksanaannya pun tidak ditentukan secara acak. Penanggalan tradisional Sasak Merujuk pada munculnya bintang “rowot”, yang dalam astronomi dikenal sebagai gugus Pleiades. Bagi masyarakat Lombok, tanda-tanda langit dan alam menjadi pedoman untuk memastikan waktu nyale akan muncul.


Nyale secara ilmiah termasuk dalam filum Annelida, kelompok cacing bersegmen yang juga mencakup cacing tanah. Bedanya, nyale hidup di laut dan termasuk kelas Polychaeta, yang memiliki banyak rambut halus (setae) di sepanjang tubuhnya. Mereka hidup tersembunyi di celah-celah terumbu karang hampir sepanjang tahun. Keberadaannya jarang terlihat, seolah-olah memang “menghilang” seperti legenda Mandalika itu sendiri.


Cacing nyale adalah hewan dengan metameri sempurna. Struktur tubuh cacing nyale memiliki bentuk yang lunak, langsing, dan berbentuk silindris. Cacing ini memiliki warna-warna menarik seperti merah, hijau, biru, dan coklat. Warna-warna ini disebabkan oleh pigmen pada tubuhnya. Keanekaragaman warna membuat cacing nyale terlihat sangat menarik.


Lalu mengapa mereka tiba-tiba muncul dalam jumlah besar pada waktu tertentu?


Jawabannya terletak pada strategi reproduksi. Nyale mengalami pemijahan massal (mass spawning), sebuah peristiwa ketika bagian tubuh posterior yang mengandung sel telur atau sperma terlepas dan berenang ke permukaan laut secara serempak. Di permukaan, mereka saling melilit dan kemudian pecah untuk melepaskan gamet ke udara laut. Proses ini harus terjadi hampir bersamaan agar pembuahan berhasil. Jika pelepasan telur dan sperma tidak tenggelam, sel-sel tersebut akan terdilusi oleh air laut dan gagal berkembang.


Menariknya, waktu yang ditentukan dalam kalender adat Sasak ternyata bertepatan dengan pola biologi tersebut. Cacing Nyale kelas Polychaeta  membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menghasilkan sel telur dan sel sperma. Sel telur dan sel sperma mulai diproduksi pada bulan September atau Oktober ditandai dengan suhu terendah air laut, sehingga peminjahan dapat terjadi secara pemidahan. Agar pemijahan juga dapat terjadi sel telur dan sperma matang akan dilakukan pemijahan secara bersamaan pada waktu pasang air laut. Penanggalan sasak sesuai dengan waktu pemijahan cacing Polychaeta. Pemijahan cacing Polychaeta mengikuti pola yang konsisten yaitu saat bulan purnama ditambah 5 hari di pertengahan bulan Februari atau Maret. Bulan ke-10 adalah bulan penghitungan dalam penanggalan Sasak, yang awal perhitungannya dimulai dari kemunculan bintang Rowot yang mulai muncul di bulan Mei. Kalender Rowot Sasak menggabungkan sistem perhitungan waktu Masehi, Hijriyah, dan Edaran Bintang (Pleiades) dalam menentukan hari, bulan, dan tahun. Artinya, masyarakat telah lama membaca pola alam melalui pengalaman dan pengamatan. Apa yang disebut sebagai “tradisi” sebenarnya juga menyimpan bentuk pengetahuan ekologis.


Bahkan, keyakinan masyarakat bahwa nyale harus tetap berada di air laut agar tidak “hancur” ternyata memiliki dasar ilmiah yang jelas. Dalam biologi, hal ini berkaitan dengan proses osmoregulasi, yaitu kemampuan organisme yang menjaga keseimbangan cairan dan kadar garam di dalam tubuh. Air laut mengandung sekitar 3,5% garam, sedangkan air tawar hampir tidak memiliki kandungan garam yang sama sekali. Perbedaan salinitas yang drastis ini menciptakan tekanan osmotik yang besar ketika nyale berpindah ke air tawar. Udara akan masuk secara berlebihan ke dalam sel-sel tubuh karena perbedaan konsentrasi, menyebabkan sel membengkak dan rusak. Sistem osmoregulasi nyale sebenarnya mampu beradaptasi dalam kisaran salinitas tertentu, tetapi perubahan yang terlalu cepat membuat tubuhnya tidak mampu menyeimbangkan dirinya. Akibatnya, struktur tubuh nyale tampak pecah atau mencair.


Pertanyaan lain yang tak kalah menarik adalah, mengapa cacing nyale seolah identik dengan kawasan pantai selatan Lombok?


Secara ekologis, nyale sebenarnya dapat ditemukan di berbagai wilayah pesisir Lombok yang memiliki substrat berkarang. Namun, pusat perayaan dan penangkapan nyale selalu terfokus di sekitar Pantai Seger dan kawasan Mandalika, Lombok Tengah. Selain faktor sejarah dan kebiasaan turun-temurun masyarakat, ada alasan ekologis yang mendukung hal tersebut. Kawasan Pantai Mandalika memiliki hamparan terumbu karang yang cukup luas dan relatif terjaga. Penelitian di zona intertidal wilayah ini bahkan mencatat keberadaan sekitar 30 spesies karang keras dari 8 famili. Terumbu karang merupakan ekosistem penting yang menyediakan tempat berlindung, sumber makanan, sekaligus habitat ideal bagi berbagai biota laut, termasuk cacing Polychaeta seperti nyale. Dengan struktur karang yang kompleks dan kondisi lingkungan yang mendukung, wilayah ini menjadi lokasi yang sangat sesuai dengan siklus hidup nyale. Jadi, dominasi pantai selatan sebagai pusat Bau Nyale bukan hanya karena alasan budaya, tetapi juga karena faktor ekologis yang membuatnya menjadi habitat yang optimal.


Tradisi Bau Nyale tidak dapat dipahami hanya sebagai peristiwa musiman yang hadir lalu selesai begitu saja. Di balik kemunculannya, terdapat peran ekologis yang penting. Cacing Polychaeta, termasuk nyale, merupakan bagian dari ekosistem terumbu karang yang berkontribusi dalam menjaga keseimbangan nutrisi di dasar laut. Aktivitasnya membantu proses daur ulang bahan organik dan menjadi bagian dari rantai makanan bagi organisme lain di wilayah pesisir. Oleh karena itu, memahami siklus hidup dan pola reproduksinya menjadi langkah penting agar tindakan penangkapan tetap sejalan dengan prinsip hama dan tidak mengganggu keseimbangan alam.

Penulis: Zohriani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar