(Ilustrasi: Mahasiswa Terhalang TOEFL untuk Lulus)
Di bawah cahaya kegelapan yang meredup, seorang mahasiswa akhir, tertunduk memikirkan nasibnya, di sudut kamar kosan yang semrawut. Tumpukan buku, lembaran kertas, dan puntung rokok berserakan di dalam ruangan.
“Entah sejak kapan, kuliah jadi terasa seperti lomba lari yang garis finisnya terus berpindah.” Gumamnya.
Setiap kali kita merasa sudah hampir sampai, selalu ada satu hal lagi yang harus dibereskan. Bukan skripsi. Bukan revisi dosen. Bukan nilai mata kuliah. Tapi TOEFL.
Rasanya agak aneh. Kuliah bertahun-tahun, ngabisin tenaga, waktu, dan uang. Dari semester awal belajar teori, praktik, diskusi, penelitian, sampai akhirnya skripsi kelar dan dinyatakan layak. Semua kewajiban akademik utama sudah selesai. Tinggal satu tahap terakhir: yudisium dan wisuda. Tapi ternyata lulusan masih bisa bertahan hanya karena satu skor tes bahasa Inggris.
Lebih ironisnya lagi, TOEFL yang dimaksud bukan TOEFL “benar”. Bukan TOEFL iBT yang diakui internasional. Bukan TOEFL ITP resmi yang dipakai bisa daftar S2 atau beasiswa. Melainkan prediksi TOEFL, tes simulasi yang setelah dipakai yudisium, sertifikatnya nyaris tidak punya nilai guna lagi. Tidak dipakai melamar kerja. Tidak relevan untuk dipelajari lebih lanjut. Bahkan sering kali tidak diakui di luar kampus sendiri.
Di titik ini, wajar jika mahasiswa bertanya,
"Sebenarnya ini buat apa?"
Hal yang bikin makin melelahkan, TOEFL ini datangnya selalu di akhir. Dari semester satu sampai tujuh, delapan, bahkan sembilan, TOEFL hampir tidak pernah menjadi perhatian serius. Mata kuliah bahasa Inggris ada, iya. Tapi pelatihannya hanya formalitas. Tidak ada persiapan yang sistematis. Tidak ada target secara bertahap. Tidak ada integrasi yang jelas.
Tiba-tiba, di penghujung kuliah, TOEFL muncul seperti gerbang terakhir. Skornya harus segini, kalau tidak, ya belum bisa lulus. Titik.
Akhirnya, mahasiswa yang sudah capek mental dan fisik diulangi satu siklus lagi: tes, gagal, tes lagi. Setiap tes bayar Rp25 ribu sekali, mungkin terdengar kecil. Tapi kalau ikut tiga kali? Empat kali? Ditambah kursus internal, remedial, dan lain-lain? Itu bukan lagi angka receh, terutama buat mahasiswa yang hidupnya sudah pas-pasan seperti saya.
Sementara itu, status "mahasiswa akhir" terus menggantung. Tidak bisa kerja penuh. Tidak bisa daftar studi lebih lanjut. Tidak bisa benar-benar selesai.
Jika TOEFL berhenti jadi soal belajar bahasa Inggris, ia berubah menjadi urusan administratif yang menentukan izin hidup-mati.
Dan jujur saja, sistem seperti ini pelan-pelan merusak idealisme. Ketika kelulusan dipertaruhkan, ketika tekanan keluarga semakin besar, ketika biaya hidup terus berjalan, mahasiswa mulai berpikir pragmatis. Bukan lagi "bagaimana caranya meningkatkan kemampuan”, tapi "bagaimana caranya cepat lulus."
Di ruang-ruang itulah cerita-cerita busuk bermunculan. Nilai bisa diatur, asal ada uang. Harganya jelas, prosesnya cepat, wisuda aman. Semua tahu itu salah. Tapi tidak semua punya kemewahan untuk terus idealis ketika sistem menekan dari segala arah.
Yang lebih menyakitkan, praktik seperti ini sering dibebankan sepenuhnya sebagai kesalahan mahasiswa. Padahal, kalau ditarik ke akar, masalahnya ada pada kebijakan desain. Kampus menjadi penentu aturan, penyelenggara tes, sekaligus pihak yang menikmati biaya perputaran. Prediksi TOEFL dijadikan syarat mutlak, namun pelatihan tanpa memadai dan tanpa nilai guna jangka panjang.
Di titik ini, mahasiswa merasa belum diuji kemampuannya, melainkan diuji ketahanannya menghadapi sistem.
Padahal, tidak semua jurusan membutuhkan kompetensi bahasa Inggris akademik pada level yang sama. Tidak semua lulusan akan berkecimpung di dunia yang menuntut TOEFL tinggi. Tapi kebijakannya disamaratakan. Semua harus tunduk pada satu skor, satu tes dan satu standar yang sering kali tidak relevan dengan kebutuhan nyata setelah lulus.
Bukan berarti pelajar anti TOEFL. Bukan berarti alergi bahasa Inggris. Banyak yang sadar, bahasa Inggris itu penting. Tapi kalau memang tujuannya meningkatkan kualitas, kenapa tidak dari awal? Kenapa tidak bertahap?
Kenapa justru tes prediksi yang sifatnya sementara dijadikan penentu akhir dari perjalanan kuliah yang panjang?
Akhirnya, kelulusan bukan lagi soal pencapaian akademik, tapi soal lolos dari satu batasan administratif. Wisuda bukan lagi momen lega, tapi momen “akhirnya lolos juga”.
Harusnya, garis finis itu tempat berhenti berlari. Bukan tempat disuruh muter satu putaran lagi.
Dan mungkin, yang paling melelahkan dari semuanya bukan TOEFL-nya, tapi perasaan bahwa perjuangan bertahun-tahun bisa tertahan oleh satu tes yang bahkan tidak kita bawa ke mana-mana setelah toga dilepas.
Penulis: Mahasiswa akhir yang tersendat lulus gara-gara TEOFL.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar