Tradisi Maleman Adat Bayan - LPM Pena Kampus

Wadah Gali Nurani Mahasiswa

Breaking

Kamis, 19 Maret 2026

Tradisi Maleman Adat Bayan

Sumber foto: Pena Kampus


Langit mulai gelap ketika adzan magrib menggema di kampung kami, Dusun Batu Gerantung, Bayan. Udara malam masih menyimpan rasa hangat, tapi halaman-halaman rumah sudah dipenuhi kesibukan kecil. Satu per satu cahaya mulai menyala dari sudut rumah kayu, memantul lembut di dinding bambu. Anak-anak yang tadi berlarian perlahan berhenti, sementara orang tua menyalakan jojor lilit lampu tradisional yang bagi kami selalu terasa lebih sakral di malam-malam terakhir Ramadan.



Saya ikut berdiri di beranda rumah sambil memegang bambu kecil berisi kapas. Api kecilnya menyala pelan saat ditiup angin. “Setelah adzan magrib, kami di Dusun Batu Gerantung mulai menyalakan api dari jojor lilit yang sudah disebar oleh pemangku adat. Lampu itu kami taruh di setiap sudut rumah dan di berugak. Setelah semuanya menyala, kami hanya menyalakannya sampai lampu mati”. Ujar Arya, sambil membantu memasang lampu di sudut rumah. 



Memang begitu rasanya. Kami hanya duduk, menyalakan cahaya-cahaya kecil itu tanpa banyak bicara. Ada rasa hening yang tenang dan hangat yang sulit dijelaskan.  Malam seperti hidup dengan caranya sendiri, seolah seluruh kampung bernapas dalam irama yang sama.



Tradisi menyalakan jojor lilit ini kami kenal sebagai ‘Maleman’, warisan adat masyarakat Bayan yang rutin diadakan pada malam-malam ganjil terakhir Ramadan. Kami meyakini, malam ke-25, 27, dan 29 sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar, sehingga suasananya selalu terjaga penuh khidmat.



Jojor lilit dibuat dari bambu, biji jarak, dan bunga kapas yang ditumbuk menggunakan lesung sebagai wadah adat. Seusai salat magrib, lampu-lampu tradisional dibakar hingga menyala, lalu dipasang di rumah adat dan di setiap rumah warga.  Nyala api ini bukan sekedar penerangan, ia adalah simbol kebersamaan dan penyambutan malam-malam suci Ramadan.


Sejak pagi, kesibukan sudah terasa di dapur-dapur rumah warga. Beras dibersihkan, nasi ditanak, dan lauk-pauk dimasak bersama keluarga. Aromanya sering kali sampai ke jalan kampung. Setelah matang, hidangan disusun ke dalam ancak atau wadah anyaman bambu pengganti piring yang menjadi bagian penting perlengkapan adat.



Ancak yang telah terisi kemudian kami arak menuju Masjid Kuno Bayan Beleq sebanyak 12 ancak sebagai persembahan adat oleh pemangku adat. Setibanya di masjid, ancak-ancak itu diterima secara adat oleh para penghulu dan kyai sebagai bagian dari rangkaian prosesi Maleman.



Bagi kami yang tumbuh di Bayan, Maleman bukan sekadar penanda malam-malam terakhir Ramadan. Tradisi turun-temurun ini adalah momen seluruh warga kembali merasa dekat dengan keluarga, leluhur, dan nilai-nilai spiritual yang kami jaga bersama. Deretan jojor lilit yang menyala di setiap rumah menciptakan pemandangan cahaya yang khas. Sederhana, tapi selalu berhasil membuat kami rindu pulang.



Tradisi ini menjadi wujud penghormatan terhadap nilai spiritual Ramadan sekaligus pelestarian warisan adat masyarakat Bayan.



Penulis: Denda Ayuni

Tidak ada komentar:

Posting Komentar