Review Film Ghost In The Cell - LPM Pena Kampus

Wadah Gali Nurani Mahasiswa

Breaking

Jumat, 24 April 2026

Review Film Ghost In The Cell

 

Sumber foto: https://www.instagram.com/p/DVLFyb7D0tV/?igsh=ODlwODZ0ZXJ2OXE0


Penulis: Nursaida


Ghost In The Cell merupakan film horor terbaru Indonesia karya sutradara Joko Anwar (Jokan) yang rilis pada 16 April 2026. Mengangkat genre komedi horor, film Ghost In The Cell juga menampilkan satir yang blak-blakan terhadap buruknya sistem pemerintahan yang ada di Indonesia. 

Film ini bercerita tentang kerasnya kehidupan di lapas pelabuan angsala, sebuah penjara khusus laki-laki yang memiliki aturannya sendiri. Sang sutradara, Jokan dalam film ini menginterpretasikan penjara sebagai miniatur suatu negara dengan hukum di dalamnya yang penuh dengan politik, kepentingan, dan kekuasaan. Tentunya negara yang dimaksud adalah Indonesia.

Hal ini terbukti pada adegan saat tokoh Dimas, (Endy Arfian) seorang napi baru yang masuk penjara karena dibunuh oleh atasannya dan Irfan (Danang Suryo Negoro) napi yang mendapat tugas memperkenalkan setiap blok yang ada di dalam lapas pelabuan angsala kepada Dimas. Dari lapas yang paling kumuh hingga lapas yang paling elit milik artis dan lapas khusus para koruptor yang dikenalkan Irfan kepada Dimas. Tidak juga ketinggalan cerita tentang kerja sama busuk antara kepala sipir dengan geng Rendra (Yuhang Ho) seorang mafia narkoba kelas kakap yang masih menjalankan bisnisnya dengan leluasa meskipun di dalam penjara. Melihat Dimas yang masih kebingungan dengan kekacauan yang disampaikan Irfan menutup masa Orientasi lingkungan Dimas dengan satu kalimat satir “namanya juga tinggal di Indonesia bukan di Belgia.” 

Daya tarik film Ghost  In The Cell bukan hanya terletak pada komedi satir yang segar mengenai isu-isu tokoh politik, dan aparat penegak hukum yang bobrok. Film ini juga dibalut dengan nuansa horor yang sadis oleh sosok entitas gaib yang mengikuti Dimas dari Kalimantan seusai mendatangi Lokasi pembakaran hutan. Entitas gaib tersebut mulai meneror dan membunuh napi yang memiliki aura negatif atau aura merah darah layaknya seni yang sangat estetik juga mengerikan di satu sisi. 

Kejadian dimana setiap korban dari entitas gaib ini dibuat layaknya karya seni yang estetik sekaligus mengerikan, seperti memutus logika naratif penonton, karena tidak adanya dasar yang kuat untuk entitas gaib tersebut melakukan hal seperti itu. Selain dari penonton yang menerka-nerka, kemungkinan besar sosok gaib atau hantunya suka membuat karya seni dari tubuh manusia. Jika seandainya pelakunya adalah seorang psikopat penggila seni dan anti orang jahat, maka logika penonton tentunya tidak akan berteriak kebingungan. Keutuhan sebuah film terlihat dari sebab akibat atau hubungan kausalitas yang mendasari tindak tanduk orang yang ada di dalamnya. 


Sebagai penutup film Ghost in the Cell sangat menarik dan segar untuk ditonton. Sang Sutradara Joko Anwar berani menampilkan kondisi realistis dengan satir secara telanjang. Melalui perpaduan horor, komedi, dan satir, Ghost in the Cell tidak hanya menyajikan ketegangan, tetapi juga menyisipkan refleksi kritis terhadap kondisi masyarakat Indonesia dan dunia saat ini. Keberhasilan film Ghost In The Cell bukan hanya dilihat dari jumlah penonton yang mencapai satu juta di minggu pertama pertunjukannya, tetapi sebelum pertunjukannya sudah berhasil terjual ke 86 negara, yang meliputi negara-negara di kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, Eropa dan Amerika Timur. Data ini penulis dapatkan dari laman Instagram resmi sutradara film Ghost In The Cell  @jokoanwar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar