Banjir Kampus Putih: Solusi Konkrit, Realisasi Sulit - LPM Pena Kampus

Goresan Penamu Runtuhkan Tirani

Breaking

Kamis, 17 Oktober 2013

Banjir Kampus Putih: Solusi Konkrit, Realisasi Sulit

Banjir yang melanda FKIP (10/07/13) telah menghentikan
kegiatan akademik selama dua hari. Terlihat mahasiswa menggeret
sepeda motornya yang terendam di parkiran gedung D. 
Fakultas  Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram (FKIP Unram) – (10/7) Peristiwa banjir yang menggenang hingga sepaha orang dewasa telah menghentikan aktifitas kampus selama dua hari. Berbagai solusi alternatif dilontarkan  para ahli dan pejabat Unram, namun  belum terealisasikan.




Moh.Syakroni, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP Unram, menilai bahwa banjir tidak sepenuhnya kesalahan dari pihak kampus melainkan peristiwa alam yang tidak terprediksi. Namun, memang hal ini juga tidak lepas dari peran infrastruktur yang ada di kampus.
“Kami sebagai fasilitator akan berusaha untuk menyampaikan tugas ini ke birokrasi kampus. Adapun cara menanggulangi banjir yang paling sederhana saja yaitu pihak kampus sebaiknya menggunakan saluran-saluran drainase yang tidak terfungsi untuk difungsikan kembali,” simpulnya.
Rangga, Mahasiswa Prodi  Pendidikan PKn Reguler Sore, selaku korban banjir  pun mengungkapkan; banjir ini bisa diminimalisir tetapi dari pihak kampus belum ada penanganan yang serius tentang peristiwa ini. “Pihak kampus seharusnya  menangani  dengan menanggulangi secara cepat dan tepat supaya banjir tidak terjadi lagi.”
Lain lagi penjelasan dari Kasubag Perlengkapan, Harianto, bahwa saluran yang ada di  FKIP sudah bagus tetapi hal yang memicu banjir yaitu dataran tanah di FKIP sangat rendah sehingga air yang berasal dari fakultas lain akan mengalir ke FKIP. “Upaya yang kami lakukan sudah dibentuk saluran-saluran langsung menuju ke sungai dan saluran irigasi yang dibuat pun memutar,” ujarnya.
“Telah terbukti juga dengan peninggian jembatan tepat di gedung FKIP. Setiap setengah bulan pihak kampus melakukan (dak) menjadi pengerukan. Usaha yang  kita lakukan untuk menanggulangi masalah banjir yaitu dengan mengusulkan pembuatan got tengah, tetapi pihak dari rektorat kurang menanggapi hal tersebut.”
Dilansir Dosen Mata Kuliah Drainase Fakultas Teknik Unram, Salehudin,ST,MT (20/7)—Perbaikan saluran air di Unram hanya dilakukan satu kali, antara 2005 atau 2007 silam. “Unram ini dulunya sawah. Jadi pendangkalan saluran di setiap celah yang ada di Unram inilah yang menyebabkan banjir semenjak tahun 2000. Di 1998 banjir itu benar, tapi tidak separah sekarang. Khususnya di FKIP, Jenis tanah tentu berpengaruh. Tanah itu ada titik jenuh, sudah tidak bisa menyerap air lagi, akhirnya airnya meluap. Tanah kita disini bagus, tanah lempung (berpasir).”
Selain keadaan tanah tersebut, pembangunan perumahan dan rumah toko (ruko) di depan UPT Perpustakaan juga turut menyebabkan saluran air tertutup. Saran dari dosen Fakultas Teknik ini adalah saluran drainase harus diperbesar dan membuat kantong-kantong resapan. Seperti sumur resapan. “Ya minimal berdiameter satu meter ke samping dan dua meter ke bawah. Atau bisa juga aliran airnya disalurkan langsung ke kali di depan Unram, selesailah masalah. Dari saluran yang ada, nanti dipecah lebih lebar, jadi dua (silang).”
Senada dengannya, Pembantu Rektor (PR) IV, Prof.Ir.Suwardji (22/7) mengungkapkan bahwa dalam tataran mahasiswa, tidak banyak yang bisa dilakukan. Mahasiswa Fakultas Teknik Unram hanya mempelajari permasalahan drainase sesuai isi mata kuliahnya. Mereka pun melakukan praktik di luar kampus.
Mengenai perencanaan tata kampus, hal ini adalah wewenang rektorat. Pihak rektorat menjanjikan bahwa tahun ini Unram akan berhenti banjir dengan catatan: dana dari pusat cepat disetujui.
“Perencanaan itu kan sistemnya bottom-up. Tunggu saja, lah. Atau mau buat saluran di bawah, seperti gorong-gorong? Itu akan kita usahakan juga. Karena seperti yang kita tahu, Unram ini terkurung kan? Sudah direncanakan, tinggal tunggu realisasinya.  Jika FKIP kemarin sampai dua hari belum resap, berarti memang masalah. Tunggu saja,” jelasnya.

Selain saluran, sampah juga berperan penting akan terjadinya banjir. Dengan petugas kebersihan yang sedikit, akhirnya mulai bulan depan semua unit khusus (kebersihan, keamanan, keindahan) akan ditangani langsung oleh rektorat. “Karena fakultas sudah diberi wewenang untuk mengurus itu,  tapi toh tidak jalan.” (ild/pus/eni/abl)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar