![]() |
| Suasana pelepasan mahasiswa PPL FKIP Unram yang bertempat di depan gedung A FKIP. |
Mataram, Pena Kampus (07/08)- Usai melewati serangkaian tahapan seleksi, sekitar 676 mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dilepas untuk melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di sejumlah Sekolah di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat. Pelepasan kali ini tak hanya diikuti oleh mahasiswa dari 15 Program Studi (Prodi) di FKIP, akan tetapi juga diikuti oleh 3 orang mahasiswa dari Thailand yang mengikuti pertukaran Mahasiswa PPL .
Sekitar 676 mahasiswa yang
dilepas pada Senin
(07/08) telah mengikuti serangkaian seleksi, mulai dari seleksi berkas,
pembekalan, hingga tes PPL. Berdasarkan
laporan dari Dadi Setiadi, selaku
Ketua Unit Pelaksana Program Pengalaman
Lapangan (UP-PPL), sejak dibukanya pendaftaran PPL online Juli lalu, sekitar
800 mahasiswa mendaftarkan diri untuk mengikuti PPL. Namun, dari 800 mahasiswa
yang mendaftar via online, hanya 700
orang yang mengumpulkan berkas yang disyaratkan dan hanya 681 orang yang dinyatakan
lulus pada tahap seleksi berkas. Mereka yang dinyatakan tidak lulus persyaratan
administrasi dikarenakan belum memenuhi jumlah Sistem Kredit Semester (SKS) dan
matakuliah yang disyaratkan.
Usai
dinyatakan lulus seleksi administrasi, 681 mahasiswa ini berhak mengikuti pembekalan dan tes PPL. Pembekalan pada tahun ini diselenggarakan
selama tiga hari sejak tanggal 24 s/d 26 Juli 2017 . Pembekalan hari pertama
diikuti oleh mahasiswa dari Jurusan Pendidikan MIPA, kemudian diikuti oleh
mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, dan Hari ke tiga diikuti
oleh mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan
Jurusan Ilmu Pendidikan.
Usai mengikuti
pembekalan, mahasiswa mengikuti Tes sebagai syarat agar bisa dinyatakan lulus
dan bisa mengikuti PPL. Mardianti, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa
Indonesia, Seni dan Daerah (PBSID) mengaku cukup kesulitan menjawab item pada
tes PPL yang diselenggarakan serentak pada tangga 27 Juli 2017, sehingga mengakibatkan dirinya tidak
lulus pada tes tahap pertama. Ia juga mengungkapkan bahwa opsi jawaban pada tes
waktu itu cukup membuatnya terkecoh “saya merasa soal tesnya susah-suah
gampang. kalau ditanya kesulitan, kadang saya terkecoh sama pilihan jawabanya.
Banyak yang mirip narasinya. paling diubah sekata atau dua kata. rata-rata
bunyi soalnya mengenai pembelajaran, jadi saya kurang faham” Ujar perempuan
berzodiak Taurus ini.
Program Pertukaran
Mahasiswa PPL se-ASEAN
Program
pertukaran mahasiswa PPL se-ASEAN merupakan kegiatan kerjasama antar Menteri Pendidikan
Se-Asia Tenggara yang baru kali ini diikuti oleh FKIP Unram. Kegiatan yang
bertajuk Pre-Service Student Teacher Exchange in Southeast Asia (SEA-Teacher
Project) berada di bawah naungan South
East Asian Minister of Education Organization (SEAMEO) ini telah memasuki batch ke Empat pada periode Agustus s/d
September 2017. Seperti yang diungkapkan oleh Lalu Rudiat Telly Savalas selaku
sekertaris bidang kerjasama untuk PPL Luar Negeri bahwa FKIP Unram baru bergabung
pada batch ke empat “salah satu program yang baru di bawah SEAMEO ini adalah SEA-Teacher
yang memfasilitasi pertukaran mahasiswa dalam rangka PPL sesama Negara ASEAN,
pelaksanaan kali ini merupakan batch ke empat”.
FKIP sendiri telah mengirim tiga orang mahasiswa yang
sudah melewati serangkaian seleksi yang dilaksanakan sejak April 2017 lalu ke
Thailand. Ketiga mahasiswa yang diberangkatkan pada Minggu (06/08), dua oranag
diantaranya berasal dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris yaitu Wiwin Adekayanti
dan Suciaty Ramdhani dan satu orang berasala dari Prodi pendidikan Biologi yaitu
Marosa Robiatul. Sebagai timbal-balik, Thailand juga mengirim tiga orang
mahasiswa yang kemudian ditempatkan di tiga sekolah di Kota Mataram,
diantaranya di SMPN 2 Mataram, SMAN 1 dan
SMAN 5 Mataram. (Hkm)

BalasHapusIn einer Kleinstadt in Nordrhein-Westfalen fällt die Wahl auf einen Cloud-Sicherheitsarchitekten, der sich mit den Diensten von AWS, Azure und GCP auskennt. Für eine fundierte cybersecurity weiterbildung ist es essenziell, die Unterschiede zwischen diesen Plattformen zu verstehen. Während AWS mit über 200 Sicherheitsservices punktet, bietet Azure spezielle Integrationen für Microsoft-Umgebungen. GCP setzt auf innovative Lösungen wie den Security Command Center und legt Wert auf offene Schnittstellen, was besonders für hybride Infrastrukturen interessant ist. Bei der Auswahl der Weiterbildungsmöglichkeiten sollte man auch die aktuellen Zertifizierungen berücksichtigen, etwa die AWS Certified Security Specialty oder die Google Professional Cloud Security Engineer Zertifikate. Im Jahr 2024 hat das Bundesamt für Sicherheit in der Informationstechnik (BSI) in TR-02102 betont, dass praktische Kenntnisse im Umgang mit Cloud-Security-Diensten unverzichtbar sind csvisor.de um eine solide Basis zu schaffen. Dabei gilt es nicht nur theoretisches Wissen zu erwerben sondern vor allem praktische Szenarien durch Übungen und Labs zu meistern. Die Kenntnis von Kontrollen wie dem Shared Responsibility Model bei AWS oder den spezifischen Compliance-Anforderungen von Azure kann den Unterschied machen bei einer erfolgreichen cyber security weiterbildung. Anhand aktueller Studien zeigt sich zudem, dass Unternehmen zunehmend auf Multi-Cloud-Strategien setzen, was die Bedeutung entsprechender Qualifikationen erhöht. Wer sich in diesem Bereich spezialisieren möchte, sollte gezielt Kurse wählen, die sowohl technische Details als auch strategische Aspekte abdecken und so die eigene Expertise erweitern können.