Republik Tepung - LPM Pena Kampus

Wadah Gali Nurani Mahasiswa

Breaking

Kamis, 18 Juni 2026

Republik Tepung

 

Sumber Foto: Pinterest

Suatu sore saya berhenti di sebuah gerobak seblak di pinggir jalan, antreannya panjang. Di sebelahnya ada cilok, lalu didepannya beberapa meter lagi ada dimsum, cireng, dan aneka jajanan lain yang bahan utamanya hampir sama: tepung.


Pemandangan itu kini ada di mana-mana. Di depan kampus, dekat pasar, di gang-gang perumahan, hingga sudut kota yang dulu sepi, seolah-olah negeri ini sedang mengalami ledakan kewirausahaan. Sekilas, hal ini terlihat seperti kabar baik. Banyak orang menyebutnya sebagai tanda tumbuhnya jiwa kewirausahaan masyarakat. Media sosial penuh dengan kisah sukses pedagang kaki lima yang mampu bertahan di tengah sulitnya ekonomi. Pemerintah pun sering menjadikan UMKM sebagai bukti bahwa roda ekonomi rakyat terus bergerak.


Namun semakin lama saya memperhatikan, semakin muncul  pertanyaan yang mengganggu pikiran saya.  

Apakah mereka benar-benar sedang mengejar mimpi menjadi  pengusaha ?

Ataukah mereka hanya berusaha bertahan hidup?



Pertanyaan  itu terasa semakin nyata ketika nilai tukar rupiah terus berada dalam tekanan. Dalam beberapa bulan terakhir, rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah dalam  sejarah modernnya. Bank Indonesia sampai harus menaikkan  suku bunga secara darurat untuk menahan pelemahan tersebut. Pada satu hal yang samaberbagai pelaku mulai mengeluhkan  kenaikan biaya produksi akibat bahan baku impor  yang semakin mahal.


Ironisnya, banyak usaha kecil yang tumbuh di jalanan justru memanfaatkan komoditas impor.  Tepung terigu yang menjadi bahan utama seblak,  cireng,  dimsum, mie,  hingga  berbagai jajanan kaki lima berasal dari gandum yang hampir  semuanya masih didatangkan dari luar negeri.  


Ketika dolar  menguat dan rupiah melemah,  harga tepung ikut terdorong naik. Dampaknya menjalar dari pabrik penggilingan hingga  gerobak-gerobak kecil di pinggir jalan.       Di sini saya mulai memahami sebuah ironi besar.   


Kita menyebut diri kita sebagai negara agraris,  namun selanjutnya  banyak makanan rakyat yang bergantung pada gandum impor . Kami menerima UMKM sebagai tulang punggung  ekonomi,  tetapi banyak dari mereka hidup di atas fondasi yang rapuh. Bahan baku impor,  daya beli masyarakat yang menurun  dan keuntungan yang semakin tipis.  Fenomena inilah yang saya sebut sebagai "Republik Tepung”. 


Sebuah republik yang dipenuhi usaha berbasis  tepung bukan karena masyarakat sedang berlomba-lomba menciptakan inovasi,  melainkan karena tepung adalah bahan yang paling murah,  paling mudah diolah , dan paling mungkin   dijual,  ketika pilihan pekerjaan lain semakin sempit. 


Di  balik gerobak-gerobak itu ada mantan buruh pabrik yang terkena PHK. Ada lulusan perguruan tinggi yang belum  mendapatkan pekerjaan.  Ada kepala keluarga yang tidak lagi  mampu mengandalkan pekerjaan formal  untuk menghidupi  rumah tangganyaBukan karena melihat peluang bisnis yang luar biasa, tetapi karena kebutuhan hidup tidak bisa menunggu.  


Dalam ilmu ekonomi, kondisi ini dikenal sebagai  keharusan berwirausaha, yaitu berwirausaha karena terpaksa oleh keadaan. Berbeda dengan peluang kewirausahaan  yang lahir dari inovasi,  riset pasar, dan perencanaan bisnis,  jenis kewirausahaan ini tumbuh dari desakan kebutuhan sehari-hari.


Rasanya keliru ketika kita terlalu cepat meromantisasi  ramainya UMKM kuliner jalanan.  Kita memuji ketangguhan  mereka,  tapi lupa bertanya mengapa semakin banyak orang yang harus masuk ke sektor informal.   

        

Padahal,  ketika rupiah melemah,  yang pertama kali dirasakan  dampaknya bukan hanya investor atau pelaku pasar modal,  tapi para pedagang kecil yang harus membeli tepung  lebih mahal, penjual gorengan yang ukuran produknya mengecil,  dan konsumen yang melihat uang belanja mereka tidak lagi  cukup seperti kemarin.


R amainya gerobak di jalanan tidak selalu berarti kondisi ekonomi sedang baik-baik saja. Kadang-kadang , keramaian itu justru merupakan tanda bahwa semakin banyak orang yang kehilangan tempat di sektor formal dan terpaksa mengambil  pekerjaan mereka sendiri di sektor informal.        


Di  tengah situasi pertumbuhan ekonomi yang melambat  , rupiah diproyeksikan,  biaya impor meningkat dan  daya beli masyarakat  menghadapi tantangan  baru,  kita perlu lebih jujur  ​​​membaca kenyataan.


Sebab,  suatu bangsa tidak boleh puas hanya karena rakyatnya  pandai bertahan hidup.  Bangsa yang sehat adalah bangsa yang mampu memberikan kesempatan kepada rakyatnya untuk hidup dengan  layak tanpa harus terus-menerus berjuang di ujunh yang dilindungi.


Selama  gerobak-gerobak itu terus bertambah karena  keterpaksaan,  bukan karena pilihan,  mungkin kita memang   sedang hidup di sebuah republik yang terlalu banyak tepung,tapi terlalu sedikit harapan.

          

Opini ini dibangun dari film dokumenter “Sisi Gelap Negara Tepung”  karya Kendati Demikian .           

Penulis: Zohriani


Tidak ada komentar:

Posting Komentar