Suatu sore saya berhenti di sebuah gerobak seblak di pinggir jalan, antreannya panjang. Di sebelahnya ada cilok, lalu didepannya beberapa meter lagi ada dimsum, cireng, dan aneka jajanan lain yang bahan utamanya hampir sama: tepung.
Pemandangan itu kini ada di mana-mana. Di depan kampus, dekat pasar, di gang-gang perumahan, hingga sudut kota yang dulu sepi, seolah-olah negeri ini sedang mengalami ledakan kewirausahaan. Sekilas, hal ini terlihat seperti kabar baik. Banyak orang menyebutnya sebagai tanda tumbuhnya jiwa kewirausahaan masyarakat. Media sosial penuh dengan kisah sukses pedagang kaki lima yang mampu bertahan di tengah sulitnya ekonomi. Pemerintah pun sering menjadikan UMKM sebagai bukti bahwa roda ekonomi rakyat terus bergerak.
Namun semakin lama saya memperhatikan, semakin muncul pertanyaan yang mengganggu pikiran saya.
Apakah mereka benar-benar sedang mengejar mimpi menjadi pengusaha ?
Ataukah mereka hanya berusaha bertahan hidup?
Pertanyaan itu terasa semakin nyata ketika nilai tukar rupiah terus berada dalam tekanan. Dalam beberapa bulan terakhir, rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah dalam sejarah modernnya. Bank Indonesia sampai harus menaikkan suku bunga secara darurat untuk menahan pelemahan tersebut. Pada satu hal yang sama, berbagai pelaku mulai mengeluhkan kenaikan biaya produksi akibat bahan baku impor yang semakin mahal.
Ironisnya, banyak usaha kecil yang tumbuh di jalanan justru memanfaatkan komoditas impor. Tepung terigu yang menjadi bahan utama seblak, cireng, dimsum, mie, hingga berbagai jajanan kaki lima berasal dari gandum yang hampir semuanya masih didatangkan dari luar negeri.
Ketika dolar menguat dan rupiah melemah, harga tepung ikut terdorong naik. Dampaknya menjalar dari pabrik penggilingan hingga gerobak-gerobak kecil di pinggir jalan. Di sini saya mulai memahami sebuah ironi besar.
Kita menyebut diri kita sebagai negara agraris, namun selanjutnya banyak makanan rakyat yang bergantung pada gandum impor . Kami menerima UMKM sebagai tulang punggung ekonomi, tetapi banyak dari mereka hidup di atas fondasi yang rapuh. Bahan baku impor, daya beli masyarakat yang menurun dan keuntungan yang semakin tipis. Fenomena inilah yang saya sebut sebagai "Republik Tepung”.
Sebuah republik yang dipenuhi usaha berbasis tepung bukan karena masyarakat sedang berlomba-lomba menciptakan inovasi, melainkan karena tepung adalah bahan yang paling murah, paling mudah diolah , dan paling mungkin dijual, ketika pilihan pekerjaan lain semakin sempit.
Di balik gerobak-gerobak itu ada mantan buruh pabrik yang terkena PHK. Ada lulusan perguruan tinggi yang belum mendapatkan pekerjaan. Ada kepala keluarga yang tidak lagi mampu mengandalkan pekerjaan formal untuk menghidupi rumah tangganya. Bukan karena melihat peluang bisnis yang luar biasa, tetapi karena kebutuhan hidup tidak bisa menunggu.
Dalam ilmu ekonomi, kondisi ini dikenal sebagai keharusan berwirausaha, yaitu berwirausaha karena terpaksa oleh keadaan. Berbeda dengan peluang kewirausahaan yang lahir dari inovasi, riset pasar, dan perencanaan bisnis, jenis kewirausahaan ini tumbuh dari desakan kebutuhan sehari-hari.
Rasanya keliru ketika kita terlalu cepat meromantisasi ramainya UMKM kuliner jalanan. Kita memuji ketangguhan mereka, tapi lupa bertanya mengapa semakin banyak orang yang harus masuk ke sektor informal.
Padahal, ketika rupiah melemah, yang pertama kali dirasakan dampaknya bukan hanya investor atau pelaku pasar modal, tapi para pedagang kecil yang harus membeli tepung lebih mahal, penjual gorengan yang ukuran produknya mengecil, dan konsumen yang melihat uang belanja mereka tidak lagi cukup seperti kemarin.
R amainya gerobak di jalanan tidak selalu berarti kondisi ekonomi sedang baik-baik saja. Kadang-kadang , keramaian itu justru merupakan tanda bahwa semakin banyak orang yang kehilangan tempat di sektor formal dan terpaksa mengambil pekerjaan mereka sendiri di sektor informal.
Di tengah situasi pertumbuhan ekonomi yang melambat , rupiah diproyeksikan, biaya impor meningkat dan daya beli masyarakat menghadapi tantangan baru, kita perlu lebih jujur membaca kenyataan.
Sebab, suatu bangsa tidak boleh puas hanya karena rakyatnya pandai bertahan hidup. Bangsa yang sehat adalah bangsa yang mampu memberikan kesempatan kepada rakyatnya untuk hidup dengan layak tanpa harus terus-menerus berjuang di ujunh yang dilindungi.
Selama gerobak-gerobak itu terus bertambah karena keterpaksaan, bukan karena pilihan, mungkin kita memang sedang hidup di sebuah republik yang terlalu banyak tepung,tapi terlalu sedikit harapan.
Opini ini dibangun dari film dokumenter “Sisi Gelap Negara Tepung” karya Kendati Demikian .
Penulis: Zohriani

Tidak ada komentar:
Posting Komentar