Ekspedisi Perjalanan Beswan 30 Di Nation Building “Damai Bumi Dewata” - LPM Pena Kampus

Goresan Penamu Runtuhkan Tirani

Breaking

Minggu, 14 Desember 2014

Ekspedisi Perjalanan Beswan 30 Di Nation Building “Damai Bumi Dewata”

Oleh: Ermia Hidayanti
(Mahasiswi FKIP Kimia semester 5)

30 Oktober 2014, sebanyak 516 Beswan 30  dari seluruh Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke berangkat menuju Semarang untuk mengikuti agenda Nation Building selama 1 minggu penuh mulai dari 30 Oktober hingga 6 November 2014.
Para penerima Djarum Beasiswa Plus, atau yang lebih akrabnya disebut Beswan Djarum, selama setahun akan mengikuti beberapa kegiatan soft skill guna melatih kecerdasan emosional untuk melengkapi kecerdasan intelegensia yang telah dimiliki di bangku kuliah sebelumnya. Kegiatan soft skill ini meliputi Nation Building, Character Building, Leadership Development, Competetion Exposure dan Community Empowerment.

Nation Building adalah kegiatan pertama yang harus dijalani oleh para Beswan 30 kali ini yang yang bertempat di PRPP (Pekan Raya dan Promosi Pembangunan) Semarang. Tema untuk Nation Building kali ini adalah Damai Bumi Dewata yang berlatar belakang bahwa terjadinya pergeseran budaya asli Indonesia oleh budaya asing akibat adanya akulturasi budaya seperti budaya di pulau Bali. Dan harapannya, para Beswan 30 bisa menjadi agen penerus bangsa yang bisa membawa bangsa ini lebih maju dengan pemikiran kritis dan dapat mempertahankan budaya-budaya di Indonesia yang menjadi kekayaan asli Indonesia.

Agenda kegiatan Nation Building ini sangat beragam dan menarik mulai dari latihan, talk show, cultural visit, dan pertunjukan Malam Dharma Puruhita (MDP). Untuk kegiatan latihan disini dibagi menjadi 2 yaitu teater dan choir yang akan ditampilkan pada MDP. Latihan ini berlangsung selama 5 hari penuh mulai pukul 8 pagi sampai pukul 11 malam, dipandu oleh pelatih yang profesional di bidangnya seperti Deni Malik (artis) di teater dan tari, serta Reza (group Jazz de Groove) di choir (paduan suara). Konsep yang diangkat dalam pertunjukan MDP ini adalah drama musikal yang memadukan teater, tari dan choir (paduan suara).

Selain latihan, kami juga mengikuti kegiatan talk show yang diselenggarakan di Gedung 168, Semarang. Talk show ini di pandu oleh praktisi jurnalis ternama, Rosiana Silalahi. Tema yang diangkat dalam talk show ini adalah “Menjadi Pejuang Keberagaman” dengan menghadirkan tokoh pluralisme K.H. Nuril Arifin, pendiri dan pengasuh pondok pesantren multi agama, pesantren Soko Tunggal. Beliau dengan gaya bicaranya yang khas membicarakan tentang keberagaman dalam sudut pandangnya dan mengatakan bahwa pentingnya hidup berdampingan dengan toleransi antar agama. Selain itu pembicara yang hadir adalah Romo Franz Magins-Suseno, seorang tokoh pendidikan sekaligus budayawan Indonesia kelahiran Jerman. Dia mengatakan bahwa mengganggu orang beragama adalah hal yang tidak beradab dan menghargai serta mengakui bukan berarti mencampuradukkan keyakinan. Serta turut hadir pula Nia Dinata, seorang sutradara sekaligus produser wanita Indnonesia. Dia berpesan bahwa kita perlu untuk melihat realita dari kaum-kaum yang terpinggirkan.


Kegiatan lain yang kami lakukan ialah cultural visit ke Kudus dengan mengunjungi berbagai tempat di Kudus mulai dari Candi Kudus tempat pemakaman Sunan Kalijaga dan Sunan Ampel. Tempat ini dijadikan tempat ziarah penduduk daerah sekitar dan penduduk dari berbagai daerah di pulau Jawa. Selain ke Candi Kudus, kita juga mengunjungi pabrik pembuatan rokok yang letaknya tidak jauh dari Candi Kudus. Pabrik tersebut mempekerjakan 5000 pegawai wanita mulai dari umur 17 tahun sampai dengan 55 tahun yang memproduksi 148,8 juta batang rokok per hari. Jenis rokok yang diproduksi tergantung dari pesanan pusat. Pada saat kami berkunjung, waktu itu sedang memproduksi rokok djarum kretek harum manis. Proses produksi rokok pada pabrik itu dimulai dengan proses pelintingan, pemotongan dan pengemasan. Pada proses pelintingan ini, tembakau yang sudah diolah dibungkus menggunakan kertas rokok dengan ukuran yang sudah ditentukan dan sudah diberi lem dari tapioka di ujung bagian rokok. Dan selanjutnya rokok-rokok tersebut dirapikan dengan memotong sisa tembakau yang menyembul keluar dengan menggunakan gunting. Dan proses terakhir yakni proses pengemasan, di mana pengemasan ini ada beberapa tahap. Tahap pertama yakni 12 batang rokok disusun secara simetris menjadi 1 bungkus. Kemudian tahap pengemasan 1 slof yang berisi 12 bungkus rokok dan pengemasan dalam bentuk bal.

Cultural visit Beswan 30 tidak sampai disitu saja. Kami juga berkunjung ke oasis Djarum Foundation Park seluas 20 hektar dan sangat indah. Di taman ini terdapat berbagai tanaman perdu, tanaman hias, dan bunga-bunga yang sangat indah dan ditata rapi. Rumput-rumput hijau yang membentang di atas bukit-bukit kecil membuat sejuk mata walau sedang di bawah terik matahari yang menyengat kulit. Di sana terdapat pula rumah joglo, rumah adat Kudus, serta tugu yang berbentuk shuttle cock, piala kejuaran bulu tangkis Djarum, daun trembesi dan masih banyak lagi. Di area ini juga terdapat tempat pengolahan limbah dan kebun bibit berbagai tanaman. Namun sayang, keindahan di Djarum Foundation Park ini tidak bisa dinikmati oleh khalayak umum karena area ini hanya boleh di masuki oleh pegawai Djarum saja.

Selain semua fasilitas kegiatan mulai dari hotel bintang 5, akomodasi full AC, makan dan minum yang berkecukupan, kami juga mendapatkan hiburan yang belum pernah kami dapatkan sebelumnya yakni bertemu dengan guest star Project Pop dan Sheila On 7. Pengalaman yang tidak akan terlupakan bagi saya mendapatkan teman dari berbagai daerah dengan latar belakang agama, jurusan, konsentrasi, budaya, bahasa yang berbeda-beda, dan bertukar pikiran serta berbagi pengalaman. Dan yang utama mendapatkan pelatihan soft skill. Jujur, ini pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di pulau Jawa dan pertama kali naik pesawat. Dan saya bangga menjadi bagian dari Djarum Foundation. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar