Hakikat Cinta - LPM Pena Kampus

Goresan Penamu Runtuhkan Tirani

Breaking

Sabtu, 23 Januari 2021

Hakikat Cinta

                                                                            (liputan6.com)


Oleh : Ema Septiani (Anggota LPM Pena Kampus)

 

“Barangkali memang benar bahwa cinta adalah sebuah keikhlasan tanpa harus menuntut balasan terhadap apa yang kita rasakan padanya. Cinta bukan menerima tetapi cinta adalah memberi. Selama kita masih mengharapkan balasan maka itu bukanlah cinta karena cinta adalah keikhlasan. Lalu apa kau akan menyerah wahai diri?


Aku tersadar dari lamunanku yang sedari tadi asyik memperhatikan semut-semut yang bergotong-royong dan berjalan rapi dengan membawa puing-puing bekal kehidupan. Yah…Begitulah kehidupan yang harus tetap berjalan meskipun selalu ada yang patah dalam setiap perjalanan karena keindahan rona kehidupan dilihat dari prosesnya begitu juga dengan hati yang selalu ingin walaupun hasilnya selalu nihil.


Tidak lama kemudian aku memutuskan untuk beranjak ke tempat yang jauh dari kebisingan, lalu aku mencoba membuka sebuah buku catatan yang selalu kubawa kemanapun aku pergi. Rupanya suasana saat ini membuatku hanyut dan memutuskan untuk menuangkan apa yang terlintas di benakku. Sudah kuduga bahwa hati ini tidak akan jauh dari pikiran-pikiran yang ada di otak dan kamu selalu mengisi pikiranku. Aku bersyukur dengan kehadiran buku ini karena dengannya aku bisa melukiskan, mencatat dan menceritakan dengan leluasa semua tentang dirimu sebelum aku memiliki keberanian untuk mendongengkannya kepada tokoh yang ada didalamnya, yaitu kamu.


Bagiku kamu adalah orang yang unik walaupun di mata orang-orang kamu adalah orang yang biasa-biasa saja. Kamu bukan orang yang berada, bukan orang yang tampan, bukan orang yang cerdas tetapi kamu membuatku menaruh hati karena kamu adalah orang yang mampu membuatku penasaran. Alasan ini mungkin terlalu klise jika kamu membacanya, aku mencintaimu karena caramu dalam berfikir yang tidak biasanya aku temukan pada orang-orang. Aku penasaran karena sikap dinginmu, namun dibalik itu semua kamu sebenarnya adalah orang yang sangat peduli dengan sekelilingmu. Aku tahu itu karena diam-diam aku memperhatikannya. Kamu menyimpan segudang cara mencintai di dalam diammu dan jujur saja, karena tingkahmu yang seperti itu akupun menyimpan segudang pertanyaan yang belum bisa kupecahkan.


Mengenalmu lewat temanku merupakan sebuah pertemuan yang tak pernah disangka-sangka, waktu itu kamu melempar senyuman ringan sambil menodongkan tangan untuk berkenalan denganku dan aku menganggapnya itu adalah hal yang wajar setiap kali orang baru pertama berjumpa dengan orang yang belum dikenalnya. Namun seiring berjalannya waktu, perkenalan itu membuat kita sering berinteraksi. Dan aku nyaman dengan perkenalan yang semacam ini, walaupun tidak ada hubungan lebih di antara kita.


Dalam hal ini aku tidak tahu harus menyalahkan siapa, menyalahkan perasaanku atau menyalahkan waktu yang telah mempertemukan kita dengan cara yang tak pernah kita rencanakan. Diam-diam aku sudah mengganggapmu lebih dari sebatas sahabat walaupun kamu belum mengetahuinya. Kadang aku juga benci dengan perasaan semacam ini. Aku bingung dengan diri ini, bingung harus memulainya bagaimana. Apakah aku harus berdamai dengan diriku sendiri?


Waktu itu, aku memutuskan lost kontak dengan kamu, Furqon. Ini bukan semata-mata karena aku menginginkannya tetapi aku berfikir mungkin ini adalah jalan yang terbaik. Mungkin dengan jarangnya kita bertemu, perasaan ini akan hilang dengan sendirinya. Aku memang pengecut kan? Yang berusaha menghindar dari perasaan.


Keputusan yang aku ambil ternyata salah, justru dengan keputusan itu aku menjadi tersiksa dan tidak bisa bertanggungjawab dengan perasaan ini. Sepertinya sudah terlalu lama aku memendam perasaan ini, rasanya tidak baik jika aku mengurung diri terlalu berlarut-larut. Cinta harus memiliki keberanian walaupun hasil akhirnya mengecewakan. Setelah kurang lebih dua belas bulan kami lost kontak akhirnya aku putuskan untuk bertemu dengannya namun yang aku temui di rumahnya hanyalah sebuah titipan surat yang dititipkan untukku melalui ibunya.


“Assalamualaikum”

“Waalaikumussalam”

“Saya Syifa Bu, temannya Furqon. Furqon ada di rumah Bu?”

“O…temannya Furqon iya nak. Kebetulan Furqon sudah lama tidak di rumah”

“Furqon kemana iya Bu? Apa dia sudah tidak tinggal disini lagi?”

“Kamu akan tahu setelah membaca surat ini, karena dulu dia menitipkannya ke ibu untukmu.”


Dengan rasa penasaran aku membuka surat tersebut namun sempat terlintas dipikiranku kenapa Furqon menitipkan surat ini dan tidak bertemu langsung menemuiku untuk memberikannya.


Assalamualaikum Syifa,

Salam Rindu.

Aku menulis surat ini semoga menjadi obat seperti namamu untukku yang dilanda kehampaan saat aku kehilanganmu. Aku bertanya-tanya pada diriku, kenapa kamu menghindar dariku dan hilang kabar. Aku sangat merindukanmu permataku.

Setiap hari, hidupku terasa ada yang kurang semenjak kepergianmu. Belakangan ini aku mengurung diri dan menghabiskan waktuku untuk menulis semua tentangmu dalam catatan harianku. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, karena dengan menulis  aku menemukan dirimu dalam setiap aksara yang berjalan. Kadang aku senyum-senyum sendiri saat mengingat wajahmu yang begitu polos saat menumpahkan minuman di bajuku waktu itu. Hehehe…

Permataku, aku ternyata sudah jatuh cinta denganmu tetapi aku takut untuk mengungkapkannya. Aku memang pengecut Syifa. Aku terlalu takut dengan hal yang nantinya akan berujung kekecewaan, aku takut dengan penolakan terlebih akhir-akhir ini kau menjauh dariku. Dan alasan kamu menjauh dariku aku tidak tahu penyebabnya. Dan akhirnya aku dengan beraninya menyimpulkan sendiri bahwa kamu sudah menemukan orang yang nyaman untuk diajak bersandar.

Syifa, jika memang benar begitu aku doakan semoga engkau bahagia dengan pilihanmu. Doamu adalah doaku juga. Karena bagiku mencintaimu adalah sebuah keikhlasan. Namun sepertinya Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk kita. Syifa, sebenarnya aku menulis surat ini dengan berat hati, berlinang air mata, aku tidak kuat untuk menyampaikannya kepadamu namun aku rasa kamu perlu mengetahuinya bahwa aku telah dinikahkan oleh kedua orang tuaku dan perjodohan ini bukan semata-mata karena keinginanku. Semoga surat ini sampai kepadamu Syifa. Doakan aku semoga bisa mencintai istriku seperti aku mencintaimu dengan keikhlasan.

Salam rindu untuk permataku.

 

Betapa hati ini hancur lebur setelah mengetahui isi surat itu, aku menyesal. Aku tidak menyesal karena telah mengenal dan mencintaimu namun aku menyesali diri ini yang tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan padamu Furqon. Penyesalan memang datangnya terlambat dan datangnya selalu pada saat semuanya sudah terjadi.


Kisah ini merupakan pelajaran bagiku bahwa mencintai seseorang tidak harus dengan suatu alasan yang tampak lebih di mata orang namun mencintai seseorang adalah sebuah keikhlasan dan berani untuk jatuh cinta maka harus memiliki keberanian pula untuk mengungkapkannya. Karena memendam perasaan sendiri sama saja dengan menyiksa diri sendiri.


Apakah kau tahu jatuh cinta yang paling menyakitkan? Yaitu jatuh cinta namun orang yang dimaksud belum sempat mengetahuinya. Oleh sebab itu jangan menunggu sampai siap karena kita akan menghabiskan sisa hidup kita untuk menunggu.


Cerita ini menyisipkan pelajaran mengenai hakikat cinta yang berlaku untuk siapa saja, tidak hanya berlaku untuk pasangan tetapi berlaku untuk keluarga, sahabat, dan sesama manusia. Jangan terlambat untuk mengatakan “Aku mencintaimu”.

 

-Tamat-

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar