Mahasiswa; Berpayung IPK Atau TALENTA? - LPM Pena Kampus

Goresan Penamu Runtuhkan Tirani

Breaking

Sabtu, 21 Maret 2020

Mahasiswa; Berpayung IPK Atau TALENTA?



Oleh: 
Abdul Goni Ilman Kusuma
(Pimum Pena Kampus 2018)

Di dunia perkuliahan ada dua jenis sebutan mahasiswa yaitu (1) mahasiswa kupu-kupu dan (2) mahasiswa kura-kura. Kupu-kupu ialah akronim dari kuliah pulang-kuliah pulang, sedangkan kura-kura ialah kuliah rapat-kuliah rapat. Konon, mahasiswa tipe pertama disebut mahasiswa apatis, kesibukannya hanya soal akademis karena beranggapan IPK adalah yang utama dan segalanya. Berbanding terbalik dengan tipe kedua yang sebutannya organisatoris, kebanyakan aktifitasnya di luar ruang kelas, sibuk berorganisasi, beranggapan IPK bukan penentu utama, dan suka demo.

Perseteruan keduanya yang memiliki cara pandang berbeda tidak bisa dielakkan. Ada banyak macam cibiran dari kedua belak pihak yang mengaggap diri paling benar. Salah satu contoh, tipe organisatoris mencibir yang akademis dengan sebutan apatis lantaran tidak peduli dengan permasalahan sosial dan kurang pergaulan. Sebaliknya, mereka yang organisatoris dianggap malas kuliah, IPK rendah, dan mahasiswa yang wisudanya abnormal; diatas delapan semester.

Itu hanya sebagian kecil dari cibiran yang lahir dari kedua belah pihak. Keduanya pun sering dibanding-bandingkan, siapa yang lebih baik? Inilah sebenarnya pertanyaan intinya. Jika mengharuskan memilih salah satu, mana kiranya yang benar? Sebelum terlalu jauh dan memberikan justifikasi mana yang benar, alangkah lebih baiknya untuk mengurai terlebih dahulu benang kusut ini.

Soekarno pernah berkata “Jas merah”. Begitulah sebutannya untuk mengingatkan agar tidak lupa dengan sejarah. Dalam konteks kedua tipe mahasiswa inipun sepertinya memang harus dilihat dari sejarahnya; sebelum sampai pada kondisi sekarang. Apalagi dalam sejarahnya di Indonesia, mahasiswa selalu mencatatkan nama dalam lembar-lembar sejarah pergolakan negeri. Muncul pula istilah mahasiswa adalah agent of control (pengontrol) dan agent of change (perubahan).

Sejarahnya, istilah itu berawal  ketika mahasiswa ikut andil dari masa sebelum kemerdekaan. Mahasiswa atau kaum terpelajarlah yang memulai dan berani mengibarkan bendera perlawanan pada penjajah. Organisasi Budi Oetomo menjadi penanda bangkitnya kaum terpelajar untuk menyuarakan kemerdekaan. Semenjak itu, semakin banyak yang sadar dan ikut melalukan pergerakan; semakin massif bersuara. Tercetuslah sumpah pemuda yang menjadi tonggak bersatunya pemuda seluruh negeri. Sampai pada akhirnya kemerdekaan diproklamirkan karena desakan para kaum muda.

Tidak hanya sampai di situ saja, pasca kemerdekaan mahasiswa kembali bergejolak hingga meruntuhkan Orde lama pada tahun 1966. Setelah runtuhnya orde lama, mahasiswa sempat dibungkam oleh Soeharto. Nyatanya, mahasiswa tetap saja tidak bisa berdiam diri. Diskusi dan konsolidasi dilakukan secara tersembunyi. Puncaknya pada 1998 ribuan mahasiswa turun kejalan hingga menelan korban. Meski begitu, rezim tangan besi Soeharto berhasil ditumbangkan. Usai Reformasi inilah kemudian mahasiswa kembali ke kampus dan dikabarkan hilang dari jalanan. Dan sekarang di 2019 mahasiswa kembali dari tidur panjangnya lantaran dibangunkan oleh RKUHP dan KPK yang dikebiri.
sumber: NOBEL School Of Business

Kembali ke topik awal, lantas di mana posisi tipe pertama dan kedua dari sekelumit sejarah mahasiswa? Jika diperhatikan, menguatnya dua kubu mahasiswa ini terjadi usai reformasi. Tepatnya ketika mahasiswa kembali ke kampus dan vakum dari dunia jalanan. Disitulah kemudian stigma-stigma negatif tentang mahasiswa organisatoris semakin tumbuh. Bahwa mereka yang ikut organisasi –terutama organisasi gerakan- adalah mereka yang gagal dalam dunia akademik. Selain itu, mahasiswa dikatakan tidak perlu lagi ikut dalam urusan politik. Mahasiswa kerjanya cukup diam di kampus dan belajar. Kembali ketujuan awalnya masuk kuliah; untuk belajar. Urusan politik sudah ada yang mengatur dan mengawasi.

Tidak hanya itu saja, organisasi mahasiswa harus menerima kenyataan pahit ketika dijadikan kambing hitam atas rendahnya prestasi akademik. Bahkan dari kalangan dosen sendiri ada yang ikut mengukuhkan anggapan itu. Bahwa mahasiswa tugasnya hanya dalam kelas, kesibukannya itu di dalam laboratorium, bukan di organisasi, apalagi ikut unjuk rasa dijalanan. Fokusnya hanya soal akademik, di luar itu adalah nomor sekian.

Bukan cuma dari kalangan dosen yang melarang (secara tidak langsung) mahasiswanya ikut berorganisasi dan mendukungnya menjadi mahasiswa tipe pertama. Pihak kampus sendiri memberikan ultimatum dengan mengeluarkan aturan yang berisi batasan siapa saja yang boleh ikut organisasi. Di mana mahasiswa yang boleh berorganisasi ialah mereka yang memliki IPK diatas 3,0 dengan batasan semester minimal semester tiga (boleh ikut) dan maksimal semester tujuh (harus nonaktif).

Begitulah realitas yang terjadi di dalam dunia kampus. Mahasiswa yang ikut organisasi seringkali dikucilkan oleh orangtuanya sendiri di kampus. Mereka dianggap sebagai wajah kelam kampus yang harus disembunyikan. Sedangkan, mahasiswa yang aktif di akademik adalah anak emas yang selalu mendapat sanjungan. Kemudian di klaim bahwa mahasiswa tipe pertama ini yang memiliki masa depan cerah karena kecakapan akademik yang dibuktikan dengan IPK tinggi. Sedangkan tipe kedua adalah wajah muram dan miskin prestasi akademik.

Ada beberapa hal yang luput dari perhatian pejabat kampus mengenai mahasiswa yang aktif berorganisasi. Bahwasanya mereka yang aktif di organisasi yang seringkali membawa nama baik kampus baik dalam kancah lokal ataupun nasional. Sebut saja misalnya dalam kancah peksiminas (pekan seni mahasiswa nasional) yang mendominasi adalah mahasiswa yang ikut organisasi. Mereka yang mengembangkan talentanya di luar ruang kelas. Bukan mahasiswa yang sibuk seharian di dalam laboratorium.

Keputusan kampus yang membatasi ruang gerak mahasiswanya untuk berkreasi adalah kesalahan fatal. Kampus secara tidak langsung telah menyatakan diri siap mencoreng mukanya sendiri. Kenapa? Karena lulusannya tidak siap menghadapi rimba yang sesungguhnya. Dalam menghadapi perkembangan global ini, seseorang tidak bisa hanya mengandalkan satu kecakapan saja. Bisa dilihat dari rilis Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2019 di mana Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 5,01% namun terjadi tren peningkatan  pengangguran dari lulusan universitas 25% (katadata.co.id).

Kampus seharusnya mengarahkan mahasiswa sudah siap bertarung dalam dunia kerja yang keras di luar sana. Namun, yang terjadi malah sebalikannya. Peningkatan pengangguran dari lulusan Universitas malah meningkat. Ini menunjukkan bagaimana kampus tidak serius menyiapkan lulusannya dengan talenta yang mumpuni. Di satu sisi, ini juga dampak dari minimnya kecakapan yang dimiliki mahasiswa. Terutama yang hanya bermodalkan kecakapan akademik dan hanya mampu menyodorkan IPK tinggi tanpa ada keahlian khusus.

Di sinilah letak perbedaan antara mahasiswa kupu-kupu dan kura-kura. Tipe pertama meski unggul secara akademik dengan IPK tinggi, lemah pada skill tambahan karena waktunya di habiskan dalam kelas. Sedangkan tipe kedua meski kalah secara akademik dan IPK tapi unggul dalam skill tambahan. Selain itu, tipe kedua lebih cekatan dalam bersosialisasi, lebih mudah berbaur dengan lingkungan karena sudah terbiasa di dalam organisasi. Dalam organisasi banyak hal bisa dikembangkan, terutama untuk mengembangkan minat dan bakat yang tidak didapatkan dalam kelas.

Kecakapan-kecakapan tambahan ini diperlukan ketika sudah tidak lagi berkecimpung di dunia kampus. Kecapakan dalam bersosialisasi dan beradaptasi ini bukan sesuatu yang simsalabim langsung jadi. Soft skill ini membutuhkan pembiasaan dan pengalaman; organisasi mahasiswa menyediakan ruang-ruang tersebut. Hanya di dalam organisasi, mahasiswa bebas untuk mengeksplor kemampuannya. Ini bukan hanya soal demo ataupun apatis dan tidak. Tapi pengalaman manajemen waktu, mengemukakan pendapat di muka umum, kemampuan memimpin, peningkatan kemampuan individu (tergantung minat dan bakat) dan lain sebagainya. Dan hal ini tidak bisa di dapatkan di dalam ruang kelas. Oleh karena itu, pengalaman yang didapatkan di organisasi mahasiswa memberikan nilai lain ketika hengkang dari dunia kampus.

Ini bukan berarti mau mengatakan bahwa organisasi lebih penting dari akademik. Tidak!. Akademik itu jelas penting, karena memang benar bahwa tujuan kuliah itu untuk meningkatkan kemampuan akademik. Hanya saja, kemampuan akademik yang tidak diimbangi dengan kecakapan lain akan menghasilkan mahasiswa yang kaku ketika keluar kampus. Apalagi ketika menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya. Belum lagi jumlah lowongan pekerjaan yang timpang dengan jumlah yang melamar. Jika tidak memiliki kecakapan tambahan, maka dipastikan mahasiswa yang hanya mengandalkan akademiknya saja tergilas oleh kerasnya persaingan dunia kerja pada era globalisasi seperti sekarang ini.

Jadi, ini bukan soal mana yang lebih baik dan mana yang benar. Kecakapan akademik dan kecakapan organisasi adalah dua hal yang saling melengkapi. Meskipun seringkali dilihat sebagai hal yang berlawanan. Anggapan bahwa organisasi menghambat akademik inilah yang mesti dihilangkan. Organisasi adalah perangkat pelengkap kemampuan akademik. Cara menyeimbangkan organisasi dan akademik inilah sebenarnya seni manejemen waktu. Menempatkan organisasi dan akademik secara proporsional.

Kampus sendiri juga harus mendukung segala bentuk kegiatan organisasi mahasiswa. Tidak hanya memanfaatkan prestasi yang ditorehkan ketika ada akreditasi. Sudah menjadi keharusan bagi kampus untuk memfasilitasi kegiatan mahasiswa dalam upaya meningkatkan soft skill. Karena meningkatnya jumlah pengangguran terdidik adalah aib sesungguhnya kampus. Untuk itulah kampus tidak boleh mengekang mahasiswanya dalam mengembangkan potensinya di dalam organisasi. Tidak boleh ada larangan ikut organisasi. Jika perlu jumlah dan anggarannya ditingkatkan.

Mahasiswa sendiri harus ingat statusnya sebagai seorang terpelajar. Seperti dikatakan Pram bahwa harus bijak sejak dalam pikiran. Harus tau kapan waktunya akademik dan kapan waktunya organisasi. Keduanya harus diseimbangkan. Harus ditanam baik-baik dalam benak bahwa “kuliah adalah prioritas, tapi berorganisasi juga harus totalitas”.

*juara 1 lomba Opini tingkat Fakultas di FKIP

4 komentar:

  1. Yg jadi evaluasi kampus juga, Kebanyakan Alumni bekerja di luar bidang kualifikasi studi yg ditempuh selama kuliah. Seperti tuh ada satu orang jurusannya Pendidikan Matematika kok milih jadi Graphic Desainer padahal ndk pernah di ajarin di kampus, kan aneh hahahaha :D ������

    BalasHapus
  2. kene dirik ne atau berembe?wkwkwk

    BalasHapus