Mataram, Pena Kampus — Oknum Pria yang membuat keributan di area Kantin Milenial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram pada Rabu (26/11/2025) akhirnya teridentifikasi.
Fakta yang mencengangkan terungkap, oknum berinisial S, seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) yang kini berstatus tidak aktif dan pernah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Jiwa (RSJ).
Pria bersorban putih berinisial S itu ternyata benar-benar tercatat pernah menjadi mahasiswa PBSI. Hal ini dibenarkan oleh pihak admin prodi, yang menyebutkan bahwa S pernah aktif kuliah sebelum kemudian mangkir dan tidak membayar SPP.
“Ada, Dia nonaktif ini, kayaknya dia mangkir, dia belum bayar SPP,” jelas Linda kepada wartawan Pena Kampus, Jumat (29/11/2025).
Sejalan dengan penjelasan admin prodi, salah satu teman sekelasnya mengenal S sebagai mahasiswa yang dulu rajin dan kritis, sebelum kondisinya berubah setelah menekuni usaha di kantin FKIP.
“Dulu dia baik banget. Selain baik, dia dikenal rajin, mandiri, ambisius, dan di kelas dia orangnya kritis,” ujar teman S yang enggan disebutkan namanya.
Kaprodi PBSI, Saharudin yang juga dosen pembimbing akademik S menginformasikan, bahwa S pernah menjalani perawatan di RSJ.
“Yang bersangkutan pernah dirawat di RSJ,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa dia tidak ada urusan lagi dengan prodi karena pelaku sudah tidak aktif sejak semester 3.
"Iya, tapi sudah ga muncul di SIA saya, karena kan dia dari semester 3 ga pernah aktif, jadi gaada hubungannya dengan kita" tegasnya.
Informasi pemberitaan sebelumnya, kawasan Kantin Milenial FKIP Universitas Mataram sempat digemparkan oleh aksi seorang pria bersorban putih yang mengamuk dan membuat kutipan pada Rabu (26/11/2025). Rekaman CCTV penjahat memaki penjaga kios, menuduh pegawai berbuat mesum, hingga berupaya melempar kursi.
Pemilik kios, Farabi, menyebut pria yang sama sudah berulah sejak dua hari sebelumnya. Ia diduga mengambil uang Rp.50,000 dari laci kasir, memfitnah pegawai, hingga menyebut mereka “kafir” karena non-Islam. Mahasiswa dan dosen yang berada di lokasi turun tangan untuk melerai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar